Belajar Bahasa Asing Sejak Dini, Antara Anggapan dan Kenyataan

Belajar Bahasa Asing Sejak Dini, Antara Anggapan dan Kenyataan

Ada keyakinan yang tersebar luas bahwa anak kecil menyerap bahasa asing seperti spons dan orang dewasa sudah terlambat untuk memulai. Keyakinan ini mendorong banyak orang tua memasukkan anaknya ke kelas bahasa sejak usia sangat muda. slot gacor Kenyataannya lebih berlapis, karena keunggulan anak kecil nyata pada sebagian aspek dan justru terbalik pada aspek lain.

Di Mana Anak Kecil Benar-Benar Unggul

Keunggulan yang paling jelas dan paling konsisten terlihat pada pelafalan. Anak yang mulai terpapar bahasa kedua pada usia dini punya peluang jauh lebih besar untuk berbicara tanpa aksen yang kentara.

Alasannya berkaitan dengan kepekaan terhadap bunyi. Bayi lahir dengan kemampuan membedakan berbagai bunyi dari banyak bahasa, lalu kemampuan itu menyempit menyesuaikan bahasa yang paling sering didengar. Bunyi yang tidak pernah dijumpai lama-lama menjadi sulit dibedakan, dan bunyi yang sulit dibedakan juga sulit ditirukan.

Anak juga cenderung menyerap pola tata bahasa tanpa perlu aturan yang dijelaskan, terutama pola yang tidak beraturan dan sulit dirumuskan.

Di Mana Orang Dewasa Justru Lebih Cepat

Yang jarang disebut adalah bahwa remaja dan orang dewasa belajar lebih cepat pada tahap awal untuk hampir semua aspek selain pelafalan.

Mereka bisa memakai penjelasan aturan dan langsung menerapkannya. Mereka punya kosakata konsep dalam bahasa pertama yang tinggal dipasangkan dengan kata baru. Mereka bisa mencari pola sendiri, mencatat, dan mengulang dengan sengaja.

Anak kecil membutuhkan paparan yang jauh lebih banyak untuk sampai ke titik yang sama. Anak yang tumbuh dalam lingkungan dwibahasa mendengar bahasa itu ribuan jam sebelum lancar. Dua jam kursus seminggu tidak mendekati jumlah tersebut, dan inilah sumber kekecewaan banyak orang tua yang mendaftarkan anaknya sejak dini lalu bertanya kenapa setelah tiga tahun anaknya masih belum bisa bercakap-cakap.

Yang Menentukan Bukan Semata Usia

Faktor yang paling kuat memprediksi hasil sebenarnya bukan usia mulai, melainkan jumlah dan kualitas paparan serta seberapa sering bahasa itu dipakai untuk keperluan nyata.

Bahasa yang dipakai untuk mendapatkan sesuatu, misalnya meminta mainan atau bermain bersama teman, melekat jauh lebih cepat daripada bahasa yang hanya muncul dalam lembar latihan. Ini menjelaskan kenapa anak yang pindah negara bisa lancar dalam waktu satu tahun sementara anak yang ikut kursus selama lima tahun masih tersendat.

Motivasi juga berperan besar, dan pada remaja atau dewasa faktor ini sering lebih menentukan daripada bakat. Orang yang punya alasan kuat untuk memakai sebuah bahasa hampir selalu mengalahkan orang yang belajar karena disuruh.

Kekhawatiran soal Kebingungan Bahasa

Sebagian orang tua khawatir dua bahasa sekaligus akan membuat anak bingung atau terlambat bicara. Bukti yang ada tidak mendukung kekhawatiran ini sebagai masalah jangka panjang.

Anak dwibahasa memang kadang mencampur kata dari dua bahasa dalam satu kalimat, tapi pencampuran itu mengikuti aturan tersendiri dan merupakan tanda pengelolaan dua sistem, bukan tanda kekacauan. Kosakata pada masing-masing bahasa bisa lebih sedikit dibanding anak satu bahasa, tapi kalau dijumlahkan biasanya setara atau lebih.

Penutup

Anggapan bahwa memulai lebih awal selalu berarti hasil lebih baik terlalu menyederhanakan sesuatu yang sebenarnya bergantung pada banyak hal. Usia dini memberi keunggulan nyata pada bunyi dan kealamian, tapi keunggulan itu hanya terwujud kalau disertai paparan dalam jumlah besar yang jarang bisa disediakan oleh kelas mingguan. Bagi yang memulai lebih lambat, kabar baiknya adalah bahwa hampir semua bagian dari kemampuan berbahasa masih terbuka untuk dikuasai, dan yang paling menentukan bukan kapan mulainya melainkan seberapa sering bahasa itu benar-benar dipakai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *